Theresia Angelina Hungan | Komsos

Umat Paroki Santa Maria Fatima (GSMF) Banyumanik merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 paroki sekaligus Hari Pangan Sedunia pada Minggu, 18 Oktober 2026. Perayaan diawali dengan kirab bendera yang dibawa oleh perwakilan dari 16 wilayah paroki, dilanjutkan dengan arak-arakan gunungan sayur-mayur sebagai simbol syukur atas hasil bumi yang dianugerahkan Tuhan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Pangan Sedunia.

Arak-arakan dilanjutkan dengan perarakan Patung Bunda Maria Fatima sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria, pelindung paroki. Barisan kemudian diikuti oleh misdinar, lektor, prodiakon, dan Pastor Paroki Banyumanik, Romo Kristoforus Djati Nugroho, Pr., yang memimpin perayaan Ekaristi.
Dalam homilinya, Romo Djati mengajak umat untuk memaknai tema Hari Pangan Sedunia 2026, “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, sebagai panggilan untuk menjaga keberlanjutan pangan dan kelestarian lingkungan. Beliau menekankan pentingnya memelihara bumi sebagai rumah bersama (our common home), meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, serta menghargai perjuangan setiap orang yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.

Pesan tersebut mengajak umat agar perayaan HUT paroki dan Hari Pangan Sedunia tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Umat diharapkan dapat menerapkan kepedulian melalui tindakan nyata, seperti menjaga kelestarian lingkungan, mengurangi pemborosan makanan, serta mengembangkan cara-cara inovatif dalam mengelola pangan secara berkelanjutan demi generasi mendatang.


Usai perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan pemberkatan gunungan dan pembakaran ujub. Acara kemudian dimeriahkan oleh penampilan kolintang dari siswa kelas 4 hingga 6 serta Saint Anthony Choir yang dibawakan oleh siswa kelas 3 hingga 6 SD Santo Antonius 02.



Perayaan juga menampilkan pertunjukan tari yang melibatkan tiga generasi dalam satu keluarga, yaitu Pak Djoko sebagai kakek, Mas Hendro sebagai bapak, dan Seto sebagai anak. Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi lintas generasi dalam memeriahkan perayaan HUT paroki.


Salah satu kegiatan yang menarik perhatian umat adalah tradisi rebutan gunungan. Setelah gunungan diberkati, umat mengambil berbagai hasil bumi, seperti wortel, kacang panjang, sawi, dan cabai. Kegiatan ini menjadi bagian dari ungkapan syukur atas hasil bumi sekaligus mempererat kebersamaan umat.


Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian nasi berkat dan kudapan, serta pesta umat sebagai bentuk syukur dan kebersamaan. Berdasarkan informasi dari panitia, sebanyak 2.000 bungkus nasi disiapkan, termasuk 400 bungkus yang mendapat subsidi dari gereja. Pembagian dilakukan melalui masing-masing wilayah dengan menggunakan kupon yang telah diberikan kepada umat. Selain itu, tersedia 900 box kudapan yang mendapat dukungan dari umat.
Setiap box kudapan berisi tujuh jenis makanan ringan. Menurut keterangan panitia, jumlah tersebut dimaknai sebagai simbol pertolongan Gereja dan rahmat Allah, sekaligus pengingat akan tujuh sakramen dalam Gereja Katolik. Dukungan dan partisipasi umat dalam penyediaan konsumsi ini mencerminkan semangat berbagi, kerjasama, dan kekeluargaan di lingkungan paroki.
Melalui perayaan HUT ke-44 ini, Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik berharap semangat syukur, kepedulian terhadap kelestarian bumi, dan kasih kepada sesama semakin tumbuh dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat. Perayaan ini menjadi momentum bagi umat untuk terus membangun kebersamaan sekaligus mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan pangan.
