PERJALANAN IMAN 46 ANAK MENYAMBUT TUBUH DAN KRISTUS UNTUK PERTAMA KALINYA

Bunda Dewi

“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yohanes 6:51) 

Minggu pagi, 7 Juni 2026, matahari bersinar terang, alam semesta seakan-akan ikut bersukacita menyambut Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Di halaman gereja, langkah-langkah kecil mulai berdatangan. Busana putih yang dikenakan anak-anak tampak berkilau diterpa cahaya pagi. Mereka berjalan berdampingan dengan ayah, ibu, kakak, atau adiknya. Beberapa anak memegang tangan ayah atau ibunya dengan erat. Beberapa kakek dan nenek juga ikut meramaikan momen istimewa cucunya. Di wajah-wajah ceria mereka tersirat perasaan gembira, gugup, sekaligus penuh harapan. 

Ada ibu yang merapikan kerah baju putranya. Ada ayah yang sesekali menepuk bahu anak perempuannya sambil berbisik, “Jangan takut. Hari ini Yesus datang kepadamu.” Mungkin kalimat itu sederhana. Namun, justru di situlah seluruh makna perayaan bersemayam. Bagi banyak keluarga, pagi itu bukan hanya sebuah acara gereja. Pagi itu adalah buah dari doa-doa yang telah dipanjatkan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Mungkin ada doa yang lahir saat anaknya masih belajar membuat tanda salib, doa yang dipanjatkan ketika mengajari doa Bapa Kami sebelum tidur, atau doa yang diam-diam diucapkan setiap kali melihat anaknya menghadapi pergumulan dunia yang semakin nyata. Semua doa seolah bertemu di depan altar pada hari yang penuh rahmat itu.

Pada perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pukul 09.00 WIB yang dipimpin oleh Romo Stephanus Gito Wiratmo, Pr., umat Paroki Banyumanik kembali menyaksikan 46 jiwa untuk pertama kalinya menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Namun sesungguhnya, kisah mereka bukan dimulai pada hari itu. Perjalanan 44 anak-anak dan 2 remaja mempersiapkan diri menerima Komuni Pertama telah dimulai sejak berbulan-bulan yang lalu.

Dibimbing oleh Banyak Tangan yang Mengasihi 

Semua berawal pada 2 November 2025. Di ruangan kelas SD Antonius 02 Banyumanik, anak-anak mengikuti kelas perdana persiapan Komuni Pertama yang dipandu oleh Tim Komuni Pertama. Tim yang dikoordinir oleh ibu Cicilia Sudarsih ini melibatkan 10 orang katekis paroki dan 1 orang bruder.

Selama masa pendampingan, anak-anak belajar mengenal lebih dekat sosok Yesus Kristus. Setahap demi setahap, mereka memahami bahwa dalam misteri Ekaristi, Tuhan Yesus sungguh hadir. Bukan sekadar lambang atau kenangan, melainkan Pribadi Yang Hidup, sebagaimana diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik: “Dalam Sakramen Mahakudus Ekaristi sungguh,nyata, dan secara substansial terkandung Tubuh dan Darah bersama jiwa dan keallahan Tuhan kita Yesus Kristus.” (KGK 1374) 

Tidak ada perjalanan iman yang ditempuh sendirian. Begitu pula perjalanan menuju Komuni Pertama. Pada acara Sosialisasi Program Komuni Pertama, 14 Desember 2025, para orang tua peserta Komuni Pertama membentuk kepanitiaan untuk mendampingi anak-anaknya. Berdasarkan kemufakatan bersama, terlahirlah sebuah tim yang bekerja demi sebuah perjumpaan yang kudus, dipimpin oleh Ibu Maria Yovita Lusia Nugroho sebagai ketua, didampingi Ibu Martantya Maudy R. sebagai bendahara, Ibu Stella Dymaria pada bidang kesekretariatan dan humas, Ibu Fransiska Ayu Purwaningrum pada bidang acara dan liturgi, serta Ibu Vincensia Nikentas Cahyo P. pada bidang perlengkapan dan konsumsi. 

Meskipun menghadapi berbagai kendala dan tantangan yang tidak mudah, namun, panitia berhasil mengelola waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pelayanan, untuk memastikan setiap anak dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik. Segala upaya mereka mengingatkan kita bahwa gereja sesungguhnya dibangun oleh banyak tangan yang bekerja dalam diam. Mungkin nama-nama orang tua yang terlibat dalam pelayanan tidak selalu terdengar dari mimbar, tetapi kasih mereka nyata hadir dalam setiap detil kegiatan yang memberi anak-anak pengalaman iman baru. Demikianlah gereja bertumbuh, tidak hanya melalui homili yang indah, terlebih juga melalui orang-orang yang rela melayani tanpa mencari validasi.

Belajar bahwa Gereja Itu Hidup 

Persiapan Komuni Pertama tidak berhenti di ruang kelas. Pada 8 Maret 2026, anak-anak bertemu dengan kakak-kakak misdinar dalam kegiatan Dinamika Bersama Misdinar. Mereka belajar banyak hal tentang liturgi, spiritualitas putra/putri altar, alat-alat paramenta, dan sebagainya. Tanpa disadari, benih panggilan juga mulai ditaburkan. Barangkali diantara mereka kelak akan berkata, “Aku ingin menjadi misdinar.” Mungkin pula ada yang, bertahun-tahun kemudian, mengenangnya sebagai awal mula kerinduan untuk melayani gereja. Bukankah Tuhan sering memulai karya-Nya melalui pengalaman-pengalaman sederhana?  

Melalui Pekan Panggilan Hidup, 26 April 2026, dalam sebuah kolaborasi bersama Kak Veronica Ranti Gloria Rosarinda dari Tim Pelayanan Pendamping Iman Remaja (PIR), anak-anak berjumpa dengan para biarawan dan biarawati. Mereka mulai mengenal bahwa Tuhan memanggil setiap orang dengan cara berbeda-beda. Sebagian orang dipanggil membangun keluarga Kristiani yang kudus, ada pula yang dipanggil untuk hidup selibat. Seperti benih yang ditaburkan di tanah yang subur, pengenalan akan berbagai panggilan hidup itu memperluas cakrawala hati mereka. 

Pada 3 Mei 2026, pelajaran iman berubah menjadi tindakan nyata. Anak-anak membawa sapu, pengki, kemoceng, kantong sampah, dan alat pel. Mereka membersihkan area Gedung Fatima, halaman gereja, lapangan parkir, serta lingkungan sekitarnya. Menyapu halaman gereja bukan sekedar membersihkan dedaunan yang gugur. Mereka sedang belajar mencintai rumah Tuhan. Memungut sampah bukan hanya menjaga kebersihan, melainkan juga melatih kepekaan terhadap lingkungan ciptaan-Nya.

Orang Tua: Katekis Pertama yang Dipilih Allah 

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.” (Amsal 22:6) 

Seringkali orang berpikir bahwa Komuni Pertama adalah perayaan bagi anak-anak. Padahal sesungguhnya, orang tualah yang lebih dahulu diajak memperbarui imannya. Menjelang perayaan Komuni Pertama, bukan hanya anak-anak yang perlu dipersiapkan. Pada 17 Mei 2026, para orang tua mengikuti rekoleksi sehari MOKa (Menjadi Orang tua Katolik), yang diselenggarakan bersama bapak Ignatius F Bayu Andoro S. dari Tim Pelayanan KPHB.

Di tengah kesibukan hidup sehari-hari, para orang tua diajak mengingat kembali panggilannya sebagai ayah dan ibu. Gereja mengajarkan bahwa orang tua adalah pendidik iman yang pertama dan utama. Hal ini ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik bahwa melalui teladan hidup, doa bersama, dan kesetiaan mengikuti Ekaristi, orang tua memperkenalkan anak-anak kepada misteri iman (KGK 2225). Anak-anak akan lebih mudah mengingat teladan daripada nasihat. Mereka akan lebih percaya kepada orang tua yang setia mengikuti Misa, bertekun dalam doa, atau tindakan kasih dalam keseharian, daripada nasihat panjang tentang Ekaristi atau lainnya.

Sebuah Lagu Syukur dari Hati Anak-Anak 

Menjelang hari besar itu, tepatnya 24 Mei 2026, suasana latihan diselingi gelak tawa, gerakan yang kadang belum serempak, dan wajah-wajah yang berbinar. Tidak ada yang menyangka bahwa latihan sederhana itu akan menjadi ungkapan iman yang begitu tulus. Pada hari penerimaan Komuni Pertama, lagu itu dinyanyikan sebelum berkat perutusan sebagai persembahan syukur. Sebuah doa nan merdu dari hati anak-anak yang hendak bersyukur kepada Tuhan, “Terima kasih, Yesus, Engkau telah datang kepadaku, sehingga aku tidak pernah berjalan sendirian.”

Ekaristi Adalah Awal 

Paus Pius X, melalui dekret Quam Singulari pada tahun 1910, mengingatkan gereja bahwa anak-anak yang telah mencapai usia akal budi layak menerima Komuni Kudus. Beliau ingin agar mereka sedini mungkin mengalami kekuatan rahmat Kristus melalui Ekaristi.

Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Komuni Pertama bukan hadiah karena seorang anak telah menjadi sempurna. Komuni Pertama adalah bekal agar anak mampu bertumbuh menuju kekudusan. Ekaristi bukan garis akhir. Ia adalah titik berangkat. Seperti dua murid Emaus yang akhirnya mengenali Yesus saat pemecahan roti (bdk. Lukas 24:30–35), demikian pula setiap anak dipanggil untuk terus mengenal Kristus setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi.  

“Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu.” (Lukas 22:19). Semoga 46 anak yang menerima telah Komuni Pertama bertumbuh menjadi murid-murid Kristus yang mencintai Ekaristi, setia menghadiri Perayaan Misa, serta menghadirkan kasih Tuhan di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat. Dan semoga keluarga-keluarga yang mengantar mereka kepada Tuhan, terus menjadi gereja rumah tangga (Ecclesia Domestica), tempat doa dipanjatkan, Alkitab dihayati, pengampunan diajarkan, kasih dipraktikkan, dan Ekaristi menjadi pusat kehidupan iman.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:56). Kiranya Sabda itu menjadi realita yang terus hidup dalam hati mereka, hari ini, esok, dan sepanjang segala masa.