Mendandani Panti Imam dalam Semangat Laudato Si’: Kreativitas Pelayanan yang Menjadi Doa

Bernadeta Cahyaning | Timpel Tata Altar

Semangat menjaga keutuhan ciptaan kini merambah ke dalam pelayanan liturgi di Paroki Banyumanik. Sabtu, 20 Juni 2026, Timpel Tata Altar Paroki menyelenggarakan sebuah workshop bertajuk “Mendandani Panti Imam dalam Semangat Laudato Si’” yang diselenggarakan di Gedung Aula Darmojuwono Lantai 2.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 pagi ini menghadirkan sosok yang telah lama berkecimpung di dunia seni dekorasi liturgi, Ir. Lucia Raras Purwaningrum. Sebagai praktisi sekaligus pengajar seni merangkai bunga yang mendalami spiritualitas pelayanan Gereja, Bu Raras mengajak para peserta untuk memaknai peran penata altar bukan sekadar sebagai penghias ruangan, melainkan pelayan yang sedang merangkai doa.

Pelayanan sebagai Wujud Doa

Dalam paparannya, Ibu Raras sapaan akrabnya menekankan bahwa menyiapkan rangkaian bunga dan tanaman bagi umat yang akan mengikuti misa adalah sebuah bentuk pelayanan yang dipandang sebagai doa. “Pelayanan adalah sebuah doa,” tegasnya. Ketika tim tata altar menata bunga, mereka sedang menyiapkan suasana hati umat agar siap berjumpa dengan Tuhan dalam Ekaristi.

Inovasi dalam Semangat Laudato Si’

Menariknya, workshop ini menekankan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Peserta diajak untuk berpikir kreatif dalam menata panti imam agar tetap tampil cantik dan istimewa, meski tidak sepenuhnya bergantung pada bunga potong.

“Kita didorong untuk melakukan kolaborasi dengan tanaman hidup. Kreativitas tim tata altar lingkungan perlu diasah agar tidak sekadar menata tanaman di dalam pot, tetapi menyusunnya menjadi komposisi yang indah, bermakna, dan menghargai alam ciptaan sesuai semangat Laudato Si’,” ungkap Bu Sapto Ketua Timpel Tata Altar, di sela waktu istirahat.

Memahami Literasi Liturgi

Tak hanya soal estetika, workshop ini juga membekali peserta dengan pemahaman mendalam mengenai batasan dan aturan liturgi. Beberapa poin penting yang menjadi catatan bagi para peserta meliputi:

  • Kesesuaian Liturgi: Penata altar harus memahami masa liturgi yang sedang berlangsung. Rangkaian harus mengikuti keadaan dan nuansa misa yang dirayakan.
  • Perbedaan Fungsi: Adanya pemahaman yang tegas bahwa merangkai bunga di gereja sangat berbeda dengan merangkai bunga untuk acara pesta atau perayaan profan lainnya. Dekorasi gereja harus bersifat mendukung kekhusyukan, bukan menjadi pusat perhatian yang mengalihkan umat dari altar itu sendiri.

Menjawab Tantangan di Lingkungan

Workshop ini menjadi ruang diskusi yang hidup bagi para peserta yang berasal dari lingkungan di Paroki Banyumanik. Dengan pemahaman teknis dan spiritual yang lebih matang, diharapkan setiap tim tata altar di lingkungan mampu menghadirkan keindahan panti imam yang konsisten, kreatif, dan tetap menjunjung tinggi martabat liturgi Gereja Katolik.

Kegiatan yang dimoderatori Ibu Paulina Tuti Wahyuni ini, diisi dengan sesi praktik langsung, di mana para peserta mencoba mengaplikasikan prinsip-prinsip yang telah dipelajari dengan memanfaatkan tanaman hidup yang tersedia. Semoga semangat pelayanan ini terus menyala, menjadikan setiap sudut Panti Imam di Paroki Banyumanik sebagai cermin kemuliaan Tuhan bagi seluruh umat yang beribadah.