Keluarga Sebagai ‘Bengkel Kasih’: TPKP Banyumanik Gelar Hari STUDI Keluarga

Ignatius F Bayu Andoro S | Timpel Pastoral Keluarga Paroki

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, institusi keluarga dituntut untuk terus memperbarui diri berlandaskan kasih Kristiani. Menanggapi panggilan pastoral tersebut, Timpel Pastoral Keluarga Paroki (TPKP) Banyumanik menyelenggarakan agenda Hari Studi Keluarga. Kegiatan yang sarat akan refleksi iman ini berlangsung khidmat dengan suasana kekeluargaan pada Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Aula Darmojuwono mulai pukul 18.30 WIB.

Dengan mengusung tajuk “Amoris Laetitia di Masa Kini: Mengupas Kegembiraan Kasih dalam Pendampingan Keluarga”, acara ini dihadiri oleh para penggerak pastoral, perwakilan lingkungan, fasilitator KPHB yang rindu memperdalam ajaran Gereja mengenai spiritualitas hidup berkeluarga.

Keluarga: Sebuah “Bengkel Kasih” yang Terus Bertumbuh

Hadir sebagai narasumber utama dalam hari studi ini adalah Romo Agustinus Eko Wahyu Krisputranto, MSF. Sebagai seorang imam dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), beliau mengupas dokumen apostolik Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) karya Paus Fransiskus dan kontekstualisasinya dalam realitas hidup sehari-hari.

Dalam pemaparannya yang interaktif, Romo Eko menegaskan satu poin teologis sekaligus humanis yang sangat menyentuh hati para peserta: tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini.

“Keluarga sejati sejatinya merupakan sebuah ‘bengkel kasih’. Di dalam ruang domestik itulah, setiap anggota keluarga berkumpul bukan karena mereka tanpa cela, melainkan untuk saling memperbaiki, merajut kembali keretakan, dan terus berproses bersama demi kualitas hidup yang lebih baik di dalam Tuhan,” terang Romo Eko sapaan akrabnya.

Aspirasi Umat: Penguatan Literasi untuk TPKL

Hari STUDI Keluarga ini tidak hanya menjadi ruang dengar searah, melainkan juga wadah penyerapan aspirasi yang dinamis. Salah satu poin penting yang mencuat dari evaluasi dan harapan para peserta urgensi penguatan kapasitas bagi Timpel Pastoral Keluarga Lingkungan (TPKL).

Peserta berharap agar pihak paroki dapat memfasilitasi penyediaan buku atau dokumen Amoris Laetitia secara merata bagi para pengurus TPKL, supaya dapat dipelajari secara mendalam di tingkat basis (lingkungan) dan diaplikasikan langsung dalam pendampingan umat.

Rencana Tindak Lanjut: Sinergi Berkelanjutan Teritorial

Menjawab kebutuhan pendampingan yang berkelanjutan, pertemuan ini menghasilkan keputusan strategis yang konkret. Ke depan, TPKP Banyumanik berkomitmen untuk tidak berhenti pada tataran teori semata.

Sebagai langkah nyata, timpel akan menginisiasi dan menjadwalkan pertemuan rutin yang dibagi berdasarkan zonasi wilayah, yakni Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Melalui pembagian wilayah ini, proses koordinasi, sharing kasus pastoral, serta perumusan solusi konkret bagi permasalahan keluarga di tingkat akar rumput diharapkan dapat berjalan lebih efektif, fokus, dan merata.

Acara malam hari itu ditutup dengan doa, membawa pulang semangat baru bagi seluruh peserta untuk mentransformasikan rumah menjadi altar-altar kecil yang memancarkan kegembiraan kasih.