Sinergi Iman dan Kasih: Kolaborasi Timpel Pastoral Keluarga dan Sakramen Inisiasi Sukses Gelar Program MOKa 2026

Ignatius F Bayu Andoro S | Timpel Pastoral Keluarga Paroki

Mempersiapkan buah hati untuk menerima Sakramen Mahakudus bukan sekadar tugas teknis, melainkan sebuah perjalanan iman kolektif antara anak, orang tua, dan Gereja. Menyadari pentingnya pendampingan yang utuh ini, Timpel Pastoral Keluarga berkolaborasi dengan Timpel Sakramen Inisiasi Paroki Banyumanik telah selesai menyelenggarakan program MOKa (Menjadi Orangtua Katolik).

Acara yang berlangsung pada Minggu, 17 Mei 2026 mulai pukul 10.00 WIB ini, dihadiri oleh 45 keluarga para orang tua dan anak penerima komuni pertama. Kegiatan edukatif dan rohani ini dipusatkan di Aula Darmojuwono lantai 2 untuk sesi pembekalan, sebelum akhirnya bergeser ke dalam Gedung Gereja.

Mengakar pada Ekaristi bersama Pastor ParokiSesi pertama MOKa dibuka dengan pembekalan teologis yang mendalam dari Romo Christophorus Tri Wahyono Djati Nugroho, Pr. Selaku Pastor Paroki Banyumanik, Romo Djati (sapaan akrab beliau) mengupas tuntas esensi dari Spritualitas Ekaristi.

Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Orang tua diajak untuk merefleksikan kembali peran mereka sebagai katekis pertama di dalam keluarga (Gereja Rumah Tangga / ecclesia domestica), yang bertugas mengantar anak-anak mencintai Yesus yang hadir dalam rupa Roti dan Anggur. Pembekalan ini menjadi fondasi penting agar penerimaan Komuni Pertama tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, melainkan sebuah pertobatan dan komitmen iman seumur hidup.

Parenting Pra-Remaja: Menyeimbangkan Cinta dan Batasan Memasuki sesi kedua, suasana aula menjadi lebih dinamis dan interaktif saat Ibu Damasia Linggarjati Novi P maju ke depan selaku narasumber psikologi parenting. Beliau membagikan wawasan praktis mengenai seni mendampingi anak pra-remaja, khususnya yang berada di rentang usia emas 9–10 tahun.

“Mendidik anak di usia transisi ini membutuhkan seni menyeimbangkan antara ungkapan cinta yang tanpa syarat (unconditional love) dengan penegakan batasan yang tegas namun bijaksana,” ungkap Ibu Damasia.

Sesi ini berjalan sangat cair karena diisi dengan:

  • Permainan Tebak Perasaan: Mengasah kepekaan emosi antara orang tua dan anak.
  • Dinamika Harapan: Ruang refleksi di mana anak dan orang tua saling mengungkapkan harapan batin mereka secara jujur, menjembatani sekat komunikasi yang sering kali muncul di era modern.

Matang Secara Teknis Melalui Gladi Bersih Setelah menyerap sesi rohani dan ilmu parenting selama kurang lebih tiga jam, program MOKa resmi berakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Namun, rangkaian persiapan tidak berhenti di situ.

Seluruh peserta, baik orang tua maupun anak-anak calon komuni pertama, langsung bergegas menuju Gedung Gereja Santa Maria Fatima untuk melaksanakan Gladi Bersih. Prosesi ini krusial dilakukan agar anak-anak memahami tata gerak liturgis, tata cara menerima hosti yang benar, serta membangun keheningan batin menjelang hari H penerimaan sakramen.

Melalui integrasi antara formasi iman (MOKa) dan kesiapan liturgis (gladi bersih), Paroki Banyumanik berharap para calon penerima Komuni Pertama 2026 dapat menyambut Tuhan Yesus dengan hati yang bersih, dewasa, dan didukung penuh oleh kehangatan keluarga.

Selamat menerima Sakramen Komuni Pertama. Tuhan Memberkati